DRONE BAWAH AIR

Kota-Bunga.net WAHANA menyelam sampai ke dalaman 100 meter dari permukaan air. Perang kat ini dapat digunakan ini sanggup- – untuk merekam gambar, mencari benda, serta untuk kegiatan penelitian di dalam air dengan cara mengendalikannya dari darat. Diberi nama unmanned underwater vehicle (UUV), yang berarti wahana bawah air tanpa awak, alat ini merupakan kreasi lima mahasiswa Jurusan Teknik Perkapalan dan Teknik Komputer Universitas Indonesia: Zulfah Zikrina, Syifa Alfiah, Hitomi Hadinuryana, Aqil Athalla Reksoprodjo, dan Aldwin Akbar Hermanudin. Mereka tergabung dalam tim Autonomous Marine Vehicles UI. Hitomi mengatakan ide pembuatan UUV terinspirasi dari peristiwa hilangnya pesawat Malaysia Airlines MH370, yang diduga jatuh di Samudra Hindia, Maret dua tahun lalu.

Sejak itu, Hitomi dan tim mulai meriset wahana bawah air. Setahun kemudian, mereka merancang bodi dan sistem elektrik kendaraan. ”Pembuatan alat benar-benar tuntas pada April tahun ini,” kata mahasiswa angkatan 2012 ini, Senin pekan lalu. UUV memiliki dua bagian utama, yaitu autonomous underwater vehicle dan remotely operated vehicle. Kedua bagian ini terbuat dari beberapa komponen, seperti pipa PVC, tiga thruster atau alat pendorong, kamera web, komputer, tiga baterai litium polimer 5.000 mAh, pengatur kecepatan, pengatur saat melaju, global positioning system (GPS), receiver, serta kabel ethernet.

Total biaya semua komponen tersebut Rp 20 juta. Menurut Hitomi, drone buatan mereka berbeda dengan remotely operated vehicle (ROV) atau wahana yang dikendalikan dari jarak jauh. Biasanya ROV berbentuk kotak yang setiap sisinya berukuran 1 : 1. ROV dapat berbelok tajam dengan mudah tapi lambat dalam bergerak. Adapun UUV berbentuk torpedo, yang sisinya memiliki perbandingan 4 : 1. UUV mampu melaju secara horizontal dengan kecepatan 1-2 knot per jam serta vertikal dengan kecepatan 0,5 knot per jam. Wahana ini juga bisa bermanuver tajam. ”Tapi kelemahannya masih bocor di bagian lambung saat uji coba,” kata Hitomi.

Selain bisa dikendalikan oleh remote control, UUV dapat digerakkan secara manual dengan penghubung kabel. Jika menggunakan kabel, drone ini bisa menembus kedalaman 100 meter. Kalau mengandalkan sinyal, alat ini hanya sanggup menyelam 30 sentimeter. Lebih dari itu, sinyal sering mati. Hitomi berencana memasang pemancar dan penangkap sinyal yang lebih kuat. Karya tim Autonomous Marine Vehicles ini menjuarai Tanoto Student Research Award 2016 di Jakarta, April lalu. Rencananya, tim Autonomous bakal mengikutkan UUV pada kompetisi AUVSI Roboboat International di Virginia, Amerika Serikat, Juli tahun ini

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *