Bermain Adalah Belajar

Kenes, 4 tahun, suka sekali bermain. Setiap pagi setelah bangun tidur, yang pertama dicari pasti dua boneka kesayangannya. Kedua boneka itu ia ajak berbicara layaknya bicara dengan teman. Sepulang sekolah, Kenes bermain bersama sepupunya di rumah. Bisa berjam-jam Kenes bermain pasar-pasaran atau utakatik mainan balok.

Baca juga : ausbildung jerman

Psikolog Lusi Nur Ardhiani menuturkan, bermain penting bagi anak usia prasekolah karena bermain memiliki peran besar dalam proses perkembangan anak. Melalui bermain, anak dapat berinteraksi de ngan dunia di sekitar mereka. “Bermain dapat memberi kesempatan bagi anak prasekolah un tuk menakluk kan ketakutannya, membangun kepercayaan diri, dan daya juang yang dibutuhkan untuk masa sekolah kelak,” papar Lusi. Anak juga dapat memuaskan kebutuhannya lewat aktivitas bermain.

Si prasekolah dapat memenuhi rasa ingin tahu, rasa ingin meniru, rasa ingin menakluk kan sesuatu, dan beragam kebutuhan lainnya. “Bermain merupakan fi trah, kebutuhan dasar yang dapat mengajari anak tentang kecakapan hidup (life skills), sekaligus membuat anak bahagia,” tutur Lusi. Lebih lanjut, pentingnya hak anak untuk bermain ini telah dituangkan dalam UndangUndang Perlindungan Anak No. 23 Tahun 2002 serta Konvensi Hak Anak PBB.

Sayangnya, sebagian besar orang dewasa menganggap kebutuhan ini merupa kan kebutuhan yang mudah untuk dipenuhi, sehingga pelaksanaannya sering disepelekan. BERMAIN MELIBATKAN SEMUA INDRA Seiring tumbuh kembangnya, si prasekolah perlu menguasai beragam kecakapan hidup atau life skills. Cara paling mudah mengajarinya tentu saja lewat bermain. Saat bermain, anak biasanya menggunakan kelima indra.

Ia akan menyentuh, melompati, meniru, mencicipi, mendendangkan lagu, mengatur kecepatan berlari, berpegangan, dan melakukan beragam aktivitas yang dapat menstimulasi perkembangan otak. Contoh, mengajari anak makan sendiri. Begitu anak diberikan sepiring buah segar dan garpu, anak akan “memainkan” potongan buah itu dengan tangannya. Saat menggenggam buah segar, anak belajar merasakan bagaimana tekstur basah, licin, yang jika dicecap rasanya manis. Semakin besar anak, ia mulai mengerti fungsi sendok garpu. Lain waktu, anak menggunakan sendok untuk memasukkan buah ke dalam mulut.

Sumber : https://ausbildung.co.id/

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *