Berkebun Hidroponik Di Lahan Biasa, Panen Tetap Ciamik

Pemenuhan Nutrisi

Ternyata pemberian nutrisi dalam cairan haralah penentu keberhasilannya. Komposisi kandungan nutrisi ini, menurut Syaugi bisa dengan mudah didapat dari internet dan membaca berbagai buku tentang hidroponik. Namun, untuk menghasilkan sayuran sesuai selera konsumen dan membuat tanaman tumbuh subur di lahan terbuka, Syaugi harus membayar “uang sekolah” yang tidak murah. “Uang sekolahnya setara satu mobil Toyota Avanza baru,” ujar lulusan Administrasi Niaga Universitas Parahyangan Bandung ini terkekeh.

Baca juga : Jasa SEO Semarang

Syaugi mengungkapkan salah satu “pelajaran” penting , bagaimana ia menemukan formula tepat untuk memberi nutrisi tanaman. “Jika nutrisi terlalu banyak unsur nitrogen (N), bisa jadi sayuran cepat subur, namun rasanya bakal berbeda. Itu hanya akan kita ketahui kalau kita jadi petani dan mencoba sampai didapat hasil maksimal,”katanya. Itu baru dari pemenuhan nutrisi saja. Belum lagi peralatan dan teknik pengairan yang juga harus disempurnakan. Tiang penyangga rak, misalnya. Awalnya, Syaugi menggunakan besi biasa.

Namun begitu berumur 2 tahun, tiang-tiang tersebut mulai terserang korosi. Belajar dari situ, Syaugi lantas menggantinya dengan besi baja ringan yang lebih tahan karat. Setelah kenyang dengan beragam ujicoba dan penyempurnaan, “uang sekolah” yang telah terbayar mulai menunjukkan hasil. Pasarnya juga terus tumbuh, seiring menjamurnya restoranrestoran di Jakarta dan sekitarnya yang menyajikan menu berbahan sayur dari luar negeri tersebut. “Hitung saja restoran yang menyajikan menu “western” di Jabodetabek.

Jumlahnya bejibun. Jasa kuliner tersebut memerlukan pasokan sayuran yang mendukung menu sajiannya. Hotel – hotel juga mencari komoditi sayur ini,” papar pria yang juga bekerja sebagai marketing manager di sebuah perusahaan swasta ini. Sayuran hasil kebun Syaugi rata-rata dijual Rp 45-65 ribu per kilo, dengan produksi per bulan mencapai 300 kg. Ia menjual tidak melalui pengepul atau pedagang perantara, sehingga ia dan konsumennya sama-sama menikmati manfaat lebih besar.

Syaugi menjual lebih tinggi, sementara konsumen tetap mendapatkan komoditi lebih murah. Ia mengaku permintaan jenis sayuran ini masih jauh lebih besar daripada yang dapat ia suplai dari kebunnya sekarang ataupun oleh petani green house pada umumnya. Oleh karenanya, di awal tahun, ia berencana membuka lagi lahan. Dalam rencana bisnisnya, di penghujung tahun ia akan membuka lagi lahan seluas 1,5 hektar.