Berkebun Hidroponik Di Lahan Biasa, Panen Tetap Ciamik Bagian 2

Tanpa rumah tanam khusus (green house), berkebun secara hidroponik tetap dapat dilakukan. Bisa hemat investasi ratusan juta, sehingga keuntungan jadi lebih menarik. Potensi pasarnya masih luas. Apa kunci suksesnya? Bagaimana pemasarannya? T etanaman seperti selada), kemangi), endive, romaine, rossa tampak menjurai, butterhead basil red oak leaf sayur “asing” (sejenis dan (sejenis lollo , hijau menyegarkan, tersembul keluar dari pipa-pipa PVC yang tertata rapi pada lahan seluas 300 m2 di daerah Cipayung, Ciputat, Tangerang Selatan.

Itulah pemandangan yang menyenangkan bila kita mengunjungi Syaugi Lettuce Hydroponic Farm (Syaugi Farm). Tak seperti tempat bertanam hidroponik lainnya yang umumnya menggunakan green house (GH), di kebun sayur milik Muhamad Syaugi (38) ini, semua jenis sayuran yang aslinya berasal dari Eropa itu terhampar begitu saja di area terbuka.

Meski demikian, kualitasnya tak kalah dibandingkan sayuran hidroponik hasil kebun GH. Dengan menanam di lahan terbuka, Syaugi, begitu sang pemilik usaha kebun ini biasa disapa, dapat menghemat sekitar Rp.120 juta, mengingat biaya pembuatan GH mencapai Rp 400.000 per meter. Lalu, apa rahasia sukses pria asli Ciputat ini menjaga kualitas sayuran supaya tetap sama dengan yang diproduksi di green house?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *